Minggu, 02 Mei 2010

MANAJAMEN PERSEDIAAN



A.  Pengertian Persediaan
Manajemen Persediaan merupakan sejumlah bahan atau barang yang disediakan oleh perusahaan, baik berupa barang jadi, bahan mentah, maupun barang dalam proses yang disediakan untuk menjaga kelancaran operasi perusahaan guna memenuhi permintaan konsumen setiap waktu.  Persediaan diperlukan untuk dapat melakukan proses produksi, penjualan secara lancar, persediaan barang mentah dan barang dalam proses diperlukan untuk menjamin kelancaran proses produksi, sedangkan barang jadi harus selalu tersedia sebagai “buffer stock“ agar memungkinkan perusahaan memenuhi permintaan yang timbul.
Manajemen persediaan adalah kegiatan untuk menentukan jumlah dan komposisi persediaan sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dan penjualan serta kebutuhan-kebutuhan pembelanjaan perusahaan dengan efektif dan efisien, juga termasuk pengaturan dan pengawasan atas pelaksanaan pengadaan bahan-bahan atau barang-barang yang diperlukan sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan dengan biaya yang serendah-rendahnya. 
 Dalam rangka meminimalkan kebutuhan operating cash maka perputaran persediaan atau inventory turnover harus diperbesar karena dengan semakin besarnya perputaran persediaan berarti semakin kecil modal yan harus diinvestasikan dalam persediaan. 
Kepentingan-kepentingan dari sudut finansial sering kali bertolak belakang dengan kepentingan perusahaan untuk menyediakan perusahaan dalam jumlah yang cukup besar guna mengurangi risiko kehabisan barang dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan produksi. Oleh karena itu perusahaan harus menetapkan suatu jumlah “optimal“ dari persediaan agar dapat mengurangi pertentangan kedua kepentingan tersebut.
Mudah menerima pendapat yang mengatakan bahwa manajemen persediaan lebih penting dalam kehidupan suatu perusahaan manufaktur dibandingkan dengan perusahaan yang produknya adalah jasa. Dikatakan demikian karena yang dimakasud dengan persediaan, yang harus dikelola dengan tingkat efesiensi yang setinggi mungkin, menyangkut bahan mentah atau bahan baku, bahan setengah jadi dalam arti masih dalam proses menjadi barang jadi atau produk yang siap dijual  dan barang jadi.
Sesuatu produk tertentu berasal dari bahan mentah atau bahan baku yang diperoleh dari para pemasok. Dalam rangka penerapan cara kerja yang efisien, persediaan bahan mentah atau bahan baku harus memperhitungkan beberapa faktor seperti : perkiraan produksi, langka tidaknya bahan mentah atau bahan baku, lokasi pemasok dikaitkan dengan lokasi perusahaan produsen, sifat hubungan perusahaan produsen dengan pemasok, jadwal pemberian dan persyaratannya, dan lancar tidaknya proses produksi dalam perusahaan produsen.
Mengenai persediaan barang setengah jadi – dalam arti masih harus mengalami pemrosesan lanjutan – dapat dikatakan bahwa persediaan itu sangat dipengaruhi oleh lamanya proses lanjutan tersebut berlangsung. Artinya, menumpuknya barang setengah jadi harus dicegah. Salah satu cara terbaik untuk mencegahnya ialah mempersingkat waktu pemrosesan hingga barang setengah jadi itu berubah menjadi barang jadi yang siap dipasarkan. Memperpendek waktu pengelolahan lebih lanjut tidak sederhana mengucapkannya, karena berkaitan dengan berbagai faktor, seperti tingkat keterampilan para pekerja disatuan kerja yang menangani produksi, teknologi yang digunakan dan apakah bahan mentah dan bahan baku dikuasai sendiri oleh perusahaan atau tidak. Mempersingkat pengelolaan lebih lanjut merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh manajer produksi. Makin singkat waktu pengolahan lanjutan itu makin kecil pula biaya produksi yang harus disediakan oleh manajer keuangan. 
Jika proses lanjutan selesai, berarti terjadilah persediaan barang jadi, yaitu produk perusahaan berupa barang yang siap dipasarkan dan dijual. Harus diupayakan agar persediaan barang jadi tidak disimpan digudang dalam waktu yang lama. Dengan perkataan lain, besar kecilnya persediaan barang jadi sesungguhnya memerlukan koordinasi yang rapi antara satuan kerja yang menangani produksi dan satuan kerja yang menangani pemasaran dan penjualan. Meskipun seorang manajer keuangan tidak terlibat langsung dalam kegiatan produksi dan penjualan, tetapi ia bukan berarti tanpa peranan, misalnya dalam hal menentukan kebijakan dan persyaratan kredit.
Persediaan barang jadi selalu mempunyai konsekuensi pembiayaan yang harus dipikul perusahaan untuk manajer keuangan harus menyediakan anggaran. Komponen biaya yang berhubungan dengan berbagai aspek penanganan persediaan pada umumnya terdiri dari biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya persediaan munimum.
Biaya penyimpanan yang juga diduga dengan penggudangan juga terdiri dari berbagai komponen seperti biaya gudang, biaya asuransi, pajak kekayaan perusahaan, biaya modal dan penyusutan. Berbagai komponen biaya itu harus dianggarkan terlepas dari kenyataan apakah perusahaan memiliki sendiri fasilitas pergudangan atau tidak. 
Biaya pemesanan yang dimaksud adalah biaya yang harus dipikul perusahaan yang timbul karena pemesanan bahan baku atau bahan mentah dan mesin-mesin yang diperlukan untuk proses produksi termasuk pemasangan dan penyetelannya dikurangi dengan rabat yang diterima perusahaan dalam hal pemasok bersedia memberikan rabat dimaksud karena, misalnya, perusahaan membelinya dalam jumlah yang besar. Persediaa barang jadi tidak boleh dibiarkan menumpuk di gudang karena hanya akan menambah biaya sebagai beban perusahaan. Namun sebaliknya, persediaan digudang jangan demikian minimnya sehingga permintaan konsumen atau pemakai produk tidak dipenuhi oleh satuan kerja yang menangani penjualan. Jika situasi demikian timbul, perusahaan menambah biaya kesempatan, kehilangan kepercayaan pelanggan karena permintaan mereka tidak terpenuhi. Di lingkungan perusahaan sendiri terjadi gangguan terhadap proses produksi yang akan menambah biaya operasional juga. Berdasarkan hal-hal itu dapat dikatakan bahwa manajemen persediaan harus terselenggara dengan baik dan memperoleh bantuan manajer keuangan apabila diperlukan.

B.  Tujuan danTipe Persediaan
 Persediaan dapat membantu fungsi-fungsi penting yang akan menambah fleksibilitas operasi perusahaan. Terdapat tujuh tujuan penting dari persediaan,  yaitu:
1. Fungsi ganda. Fungsi utama persediaan adalah memisahkan proses produksi dan distribusi.
2. Mengantisipasi adanya inflasi. Persediaan dapat mengantisipasi perubahan harga dan inflasi, penempatan persediaan kas dalam bank merupakan pilihan yang tepat ntuk pengembalian investasi.
3. Memperoleh diskon terhadap jumlah persediaan yang dibeli.fungsi persediaan yang lain adalah memanfaatkan keuntungan dari diskon terhadap jumlah persediaan yang dibeli.
4. Menjaga adanya ketidakpastian. Dalam sistem persediaan terdapat ketidakpastian dalam hal permintaan, penawaran dan waktu tunggu.
5. Menjaga produksi dan pembelian yang ekonomis.
6. Mengantisipasi perubahan permintaan dan penawaran.
7. Memenuhi kebutuhan terus-menerus.  

C.  Jenis - Jenis Persediaan 
1. Persediaan Barang Baku 
Persediaan bahan baku terdiri atas bahan baku dasar yang dibeli dari perusahaan lain untuk digunakan dalam operasi produksi perusahaan.  Barang-barang ini bisa meliputi baja, kayu, minyak bumi, atau bahan yang sudah dimanufaktur seperti kawat, poros peluru atau ban yang tak diproduksi perusahaan sendiri. Tanpa merinci bentuk persediaan bahan baku, semua perusahaan manufaktur secara definisi menyimpan persediaan bahan baku dengan tujuan memisahkan fungsi produksi dari fungsi pembelian kartunya, membuat kedua fungsi independen dari satu sama lain, agar penundaan pengiriman bahan baku tak menyebabkan penundaan produksi. Jika pengiriman terlambat, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan bahan bakunya dengan mencairkan persediaannya. Selama perang dengan Irak tahun 1991, banyak perusahaan yang menggunakan minyak bumi sebagai bahan produksi membangun persediaan mereka untuk mengantisipasi perlambatan atau mungkin penghentian arus minyak dari Timur Tengah. Pembangunan persediaan bahan baku ini memungkinkan perusahaan dengan persediaan yang cukup terus memproduksi waktu perang mengakibatkan pemotongan arus minyak.
2. Persediaan Barang dalam Proses 
Persediaan barang dalam proses terdiri atas barang setengah jadi yang membutuhkan tambahan pekerjaan sebelum menjadi barang jadi. semakin kompleks dan panjang proses produksinya, semakin besar investasi dalam persediaan barang dalam proses. Tujuan persediaam barang dalam proses adalah  memisahkan berbagai operasi dalam proses produksi agar kegagalan mesin dan penghentian pekerjaan dalam satu takkan mempengaruhi operasi lain. Asumsikan, contohnya, ada 10 operasi produksi yang berbeda, masing-masing melibatkan pekerjaan yang diperoduksi dalam operasi sebelumnya. Jika mesin yang melakukan operasi produksi pertama rusak, sebuah perusahaan tanpa persediaan barang dalam proses harus menutup kesepuluh operasi produksi. Tapi jika sebuah perusahaan memiliki persediaan itu, sisa 9 operasi dapat terus dengan menarik bahan untuk operasi kedua dari persediaan bukan langsung dari hasil operasi pertama.
3. Persediaan Barang Jadi
Persediaan barang jadi tediri atas barang yang telah selesai produksinya tapi belum dijual. Tujuan persediaan barang jadi adalah memisahkan fungsi produksi dan penjualan agar tidak perlu memproduksi barang sebelum penjualan terjadi, penjualan dapat dilakukan langsung dari persediaan. dalam industri mobil, contohnya, orang takkan membeli dari agen yang membuat mereka menunggu beberapa minggu atau bulan, jika agen lain dapat memenuhi pesanan langsung.

D.  Masalah Titik Pemesanan
 Dua asumsi yang paling membatasi yaitu permintaan konstan atau seragam dan pengiriman langsung diatasi melalui dimasukkannya stok keamanan, yaitu persediaan yang dipegang untuk mengakomodasi penggunaan yang luar biasa besar dan tak diharapkan selama waktu pengiriman. Keputusan sebanyak apa stok kemanan dipegang biasanya disebut masalah titik pemesanan. yaitu, berapa rendahnya persediaan berkurang sebelum dipesan kembali.
Dua faktor yang ikut menentukan titik pemesanan yang tepat: 1. Stok pembelian atau waktu pengiriman, dan 2 stok keamanan yang diinginkan. Titik pemesanan dicapai saat persediaan jatuh ke tingkat sama dengan stok waktu ditambah stok keamanan.
Titik pemesanan persediaan
pesanan persediaan baru saat tingkat persediaan jatuh ketingkat ini 
= Stok waktu pengiriman + Stok keamanan.
Sebagau hasil selalu menyimpan stok keamanan, tingkat persediaan rata- rata meningkat. Sebelum dimasukkannya stok keamanan tingkat persediaan rata- rata sama dengan EOQ/2, sekarang menjadi
Persediaan rata – rata = ESQ/2 + stok keamanan.
Secara umum, beberapa faktor secara simultan menentukan berapa banyak stok waktu pengiriman dan stok keamanan harus dipegang. Pertama, efesiensi sistem penimbunan kembali mempengaruhi berapa banyak stok waktu pengiriman dibutuhkan. Karena stok watu pengiriman adalah penggunaan persediaan yang diharapkan antara pemesanan dan penerimaan  persediaan, penimbunan kembali persediaan yang efisien akan mempengaruhi kebutuhan stok waktu pengiriman.
Ketidak pastian yang melingkupi baik waktu pengiriman dan kebutuhan produk mempengaruhi tingkat stok keamanan yang dibutuhkan. Semakin pasti pola arus masuk dan arus keluar persediaan, semakin sedikit stok keamanan dibutuhkan. Akibatnya, jika arus masuk dan keluar sangat dapat diramalkan, maka sedikit kemungkinan terjadinya kehabisan stok yang tak diperkirakan.
Marjin keamanan yang diinginkan juga mempengaruhi tingkat stok keamanan yang dipegang. Jika kehabisan persediaan suatu pengalaman yang mahal, stok keamanan yang dipegang akan lebih besar daripada jika sebaliknya. Jika kehabisan stok dan penundaan dalam melayani pelanggan  menghasilkan ketidakpuasan langganan yang kuat dan kemungkinan kehilangan penjualan dimasa depan, maka stok keamanan tambahan dibutuhkan. Penentu akhir adalah biaya menyimpan persediaan tambahan, baik dalam biaya penanganan dan pergudangan dan biaya oportunitas investasi dalam persediaan tambahan. Dengan sangat sederhana, semakin besar biaya, semakin kecil stok keamanan.
Penentuan stok keamanan melibatbatkan keseimbangan dasar antara risiko kehabisan stok, menghasilkan ketidakpuasan pelanggan dan kehilangan penjualan dan peningkatan biaya karena menyimpan biaya tambahan.

E.   Perputaran Persediaan
Alat untuk menguji persediaan adalah ratio perputaran persediaan dan jumlah hari persediaan. Ratio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan perusahan telah dijual selama periode tertentu, sedangka jumlah hari persediaan menunjukkan berapa lama persediaan itu tersimpan di gudang. Adapun cara menghitung ratio tersebut adalah :
                                                                   Harga pokok penjualan
                                                                   (Cost of goods sold)                                                               
Perputaran persediaaan barang dagang = -----------------------------------------------
(Merchandise turnover)                             Rata-rata persediaan barang dagang
                                                                  (Average merchandise inventory at cost)

                                                                   Jumlah hari pertahun
Jumlah hari persediaan                          = ----------------------------
(= hari rata-rata pers. disimpan)                perputaran persediaan

Rata-rata persediaan dihitung dengan cara menambahkan saldo persediaan awal dan saldo persediaan akhir, kemudiaan dibagi dua. Jumlah hari pertahun untuk perhitungan yang teliti serimg digunakan 365 hari; apabila hanya digunakan hari kerja maka satu tahun = 300 hari; akan tetapi banyak juga yang mempergunakan perhitungan satu tahun = 360 hari. 
Selanjutnya untuk perputaran persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi dapat dihitung sebagai berikut:
Harga pokok bahan baku yang dipergunakan
                                                                (Cost of raw material used)
Perputaran persediaan bahan baku       = ------------------------------------------------------
                                                                 Rata-rata persediaan bahan baku
                                                                 (Average raw material inventory)
Persediaan awal  +  pembelian neto  -  persediaan akhir       =  harga pokok bahan
Bahan baku             bahan baku            bahan baku                   baku yang dipergunakan

Pembelian bahan -  retur pembelian  -  potongan pembelian =  pembelian neto
Baku bruto              bahan baku            bahan baku                    bahan baku

                                                                         Harga pokok (barang) produksi
                                                                         (cost of goods manufactured)
perputaran persediaan barang dalam proses = --------------------------------------------------
(work in process turnover)                               Rata-rata persediaan barang dalam proses
                                                                          (average work in process inventory)

persediaan awal  +  pengumpulan      -  persediaan akhir        =  harga pokok  
barang dalam          biaya-biaya             barang dalam                (barang) produksi
proses                      barang dalam          proses
                                proses

harga pokok                                                                                  pengumpulan
bahan baku yang  +  biaya tenaga       + biaya overhead          =  biaya-biaya barang
dipergunakan            kerja langsung       pabrik                            dalam proses

                                                                          harga pokok barang yang tersedia untuk dijual
                                                                          (cost of goods sold)
perputaran barang jadi                                  = --------------------------------------------------
(finished goods turnover)                                 rata-rata persediaan barang jadi
                                                                          (average finished goods inventory)

persediaan awal    +   harga pokok        -  persediaan akhir      =  harga pokok barang
barang jadi                 barang produksi      barang jadi                  yang tersedia untuk dijual

F.   Jenis-jenis Biaya Dalam Persediaan
Beberapa masalah keputusan persediaan dapat diselesaikan dengan menggunakan kriteria ekonomis, satu syarat mutlak terpenting adalah membuat struktur biaya. Struktur biaya ini memuat biaya persediaan, biaya persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang disebabkan oleh adanya persediaan. Biaya persediaan ini di dalam perusahaan secara umum dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
1. Biaya pembelian. Merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang, jumlahnya tergantung pada jumlah barang yang dibeli dan harga per unit barang.
2. Biaya pengadaan. Merupakan biaya yang berhubungan dengan pembelian barang yang terdiri dari biatya pemesanan, apabila barang yang diperlukan berasal dari luar perusahaan.
3. Biaya penyimpanan. Biaya penyimpanan adalah semua pengeluaran yang disebabkan oleh adanya kegiatan menyimpan barang dalam periode waktu tertentu, biaya ini diwujudkan dalam bentuk prosentase nilai rupiah per unit waktu. Biaya ini meliputi:
biaya modal
biaya penyimpanan
biaya keusangan atau kadaluwarsa
biaya kehilangan dan biaya kerusakan
biaya asuransi
biaya administrasi dan pemindahan
4. Biaya kekurangan persediaan. Biaya kekurangan persediaan merefleksikan konsekuensi ekonomis yang disebaakan oleh adanya kehabisan persediaan. Adapun yang termasuk biaya ini adalah:
jumlah barang yang tidak terpenuhi
waktu pemenuhan
biaya pengadaan darurat

 Untuk mengatasi keadaan yang tidak diinginkan yaitu kehabisan persediaan yang diakibatkan oleh keterlambatan kedatangan barang atau kenaikan dalam pemakaian barang, atau kedua-duanya, diperlukan sejumlah persediaan pengaman.
Persediaan pengaman adalah persediaan ekstra yang harus diadakan untuk proyeksi atau pengaman dalam menghadapi kehabisan persediaan karena berbagai sebab. Dengan demikian, persediaan pengaman mempunyai dua aspek dalam pembiayaan perusahaan  :
Persediaan pengaman akan mengurangi biaya yang timbul karena kehabisan persediaan. Makin besar persediaan pengaman, makin kecil kemungkinan kehabisan pesediaan, sehingga makin kecil pula biaya karena kehabisan persediaan.
Tetapi adanya persediaan pengaman akan menambah biaya penyediaan barang. Makin besar persediaan pengaman, makin besar pula biaya penyediaan barang.

G.  Just In Time 
Salah satu pendekatan terhadap pengendalian persediaan adalah sistem just in time (JIT) yang telah dikembangkan oleh perusahaan- perusahaan Jepang yang telah banyak meraih popularitas di seluruh dunia. Toyota adalah salah satu perusahaan yang pertama yang telah secara agresif menerapkan sistem just-in-time.
Persediaan just in time merupakan persediaan minimum yang harus dipenuhi untuk menjaga agar proses berjalan dengan sempurna. Konsep just in time berisi tentang jumlah yanh tepat dari item yang bagus yang akan tiba pada saat yang dibutuhkan tanpa ada keterlambatan. Agar just in time dapat diaplikasikan dalam perusahaan, maka manajer harus mengurangi keanekaragaman yang disebabkan oleh faktor internal maupun eksternal, artinya jika persediaan muncul oleh karena adanya keanekaragaman dalam proses, maka manajer harus mengeliminasi keanekaragaman tersebut.
Tujuan just in time adalah menyeimbangkan sistem dan untuk mencapainya adalah melalui sistem aliran material dengan menciptakan proses sependek mungkin dengan menggunakan sumber daya yang ada dengan cara yang terbaik. Tujuan tersebut dapat dicapai apabila perusahaan memiliki tujuan: 
1. Mengurangi kegiatan yang tidak perlu dilakukan 
2. Mengurangi persediaan dalam perusahaan 
3. Mengurangi waktu persiapan dan lead time
4. Membuat sistem yang fleksibel
5. Mengurangi kesalahan
Pembelian persediaan dengan menggunakan metode just in time memiliki ciri khas sebagai berikut:
1. Pemasok
Jumlah pemasok sedikit
Berdekatan dengan jarak pemasok
Melakukan bisnis ulang dengan pemasok yang sama
Melakukan penawaran terhadap seumlah komponen baru 
Melakukan integrasi dengan pemasok
Mendorong pemasok untuk menerapkan konsep just in time
Aktif melakukan analisis dengan pemasok agar harga tetap bersaing
Kelompok
2. Jumlah
jumlah output yang tetap
frekuensi pengiriman dalam jumlah lot yang kecil
melakukan kontrak jangka panjang 
meminimalkan penggunaan kertas kerja
tidak terjadi kekurangan atau kelebihan penerimaan
3. Kualitas 
meminimalkan spesifikasi produk 
pemasok mendorong menggunakan bagan
membantu pemasok menemukan kualitas yang diinginkan
mempererat hubungan pembeli dan penjual untuk menjamin kualitasnya
pengendalian kualitas di samping inspeksi ukuran lot
4. Pengiriman 
penjadwalan melakukan pengendalian terhadap pwerusahaan pengiriman milik sendiri atau kontrak, gudang kontrak dan angkutan yang digunakan
Just in time merupakan konsep pengurangan kesalahan, penyeimbangan perusahaan dan jumlah persediaan yang sedikit dan kunci just in time adalah memproduksi ukuran lot kecil sebagai standar. Pengukuran terhadap ukuran batch sangan membantu mengurangi persediaan rata-rata dan biaya persediaan. Pada saat penggunaan persediaan konstan, tingkat persediaan rata-rata merupakan jumlah persediaan maksimum + persediaan minimum dibagi dua.
                                                 Persediaan maksimum + persediaan minimum
Tingkat persediaan rata-rata = -------------------------------------------------------
                                                                                      2  

Rata-rata persediaan turun pada saat jumlah pemesanan kembali turun yang disebabkan oleh tingkat persediaan maksimum turun.


Sistem kontrol just in time awalnya dikembangkan di Jepang oleh Taiichi Okno, wakil presiden Toyota. Awalnya, sistemnya disebut kanban, dinamai berdasarkan kartu yang ditempatkan di tempat penyimpanan bagian yang digunakan untuk memberitahukan perlunya persediaan baru. Ide dibalik sistem ini adalah  perusahaan harus memiliki tingkat persediaan minimum, bergantung pada penyedia untuk menyediakan bagaian “tepat waktu“ untuk dipakai oleh mereka. Ini kontras dengan filosifi persediaan tradisional perusahaan AS, di mana kadang disebut sistem,“just in case“, yang memegang tingkat stok keamanan yang sehat untuk memastikan produksi takkan terganggu. Walau persediaan besar bukan ide buruk saat tingkat bunga rendah, saat tingkat bunga tinggi mereka memakan biaya.
Untuk mencapai filosofi just in time, berikut teknik yang telah berhasil diterapkan pada industri jasa ynag diadopsi dari industri manufaktur. Kesesuaian penggunaannya bergantung pada karakteristik perusahaan, produksi, teknologi, keahlian dan budaya perusahaan.
Kelompok yang mengorganisir problem solving. Memfokuskan pada perbaikan kelompok, memperbaiki lingkaran kualitas dan kinerja biaya proses.
Perbaikan lingkungan
Perbaikan kualitas
Mengklarifikasi aliran proses. Klasifikasi aliran proses meliputi desain ulang proses, perputaran, kelompok kerja dan pengembangan staf yang fleksibel
Memperbaiki peralatan dan teknologi proses
Menentukan beban fasilitas. Perusahaan akan menyeimbangkan beban produksi dengan permintaan
Mengurangi kegiatan yang tidak penting
Melakukan reorganisasi bentuk wujud. Tempat kerja seringkali membutuhkan perbaikan pada saat JIT diterapkan yaitu menyesuaikan sel kerja dengan permintaan atau lot yang kecil
Mengembangkan jaringan pemasok
Keuntungan Menggunakan JIT:
1. Membangun sistem yang fleksibel, dengan pelatihan beberapa keterampilan kepada karyawan akan meningkatkan keahlian karyawan dalam berbagai bidang, sehingga dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul.
2. Mengurangi kesalahan dengan menekankan layanan yang standar dan berkualitas.
3. Meminimalkan waktu proses. 
4. Menyederhanakan proses yaitu dengan membuat sistem yang baik, misalnya tersedianya ATM, stasiun layanan, dll.
Walau sistem persediaan  just in time secara intuitif menarik, telah terbukti mudah dijalankan. Jarak yang jauh antara penyedia dan pabrik menghasilkan terlalu banyak ruang untuk penyimpanan dan tak cukup akses untuk menerima persediaan telah membatasi implementasi yang sukses. Tapi banyak perusahaan dipaksa merubah hubungan mereka dengan penyedia mereka. Karena perusahan bergantung kepada penyedia untuk mengirimkan bagian dan bahan baku berkualitas tinggi segera, mereka harus memiliki hubungan yang dekat, berjangka panjang dengan mereka. 



DAFTAR PUSTAKA

Halim, Abdul. 2004. Auditing 2 Dasar - Dasar Prosedur Pengauditan. Yogyakarta : Akademi Manajemen Perusahaan YKPN.
Keown, Arthur. 1996. Dasar - Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta : Salemba Empat.
Siagian, Sondang. 1997. Audit Manajemen. Jakarta : PT Bumi Aksara.
C.Van Horne, James. 1997. Prinsip – Prinsip Manajemen Keuangan. Jakarta : Salemba Empat.
Zulfikarijah, Fien.2005. Manajemen Persediaan. Malang : UMM Press.
Margaretha, Farah. 2005. Teori dan Aplikasi Manajemen Keuangan ; Investasi dan Sumber Dana Jangka Pendek. Jakarta : PT Grasindo, Anggota IKAPI 
Indrajit, Eko Richardus dan Djoko Pranoto. 2003. Manajemen Persediaan. Jakarta : PT Grasindo, Anggota IKAPI 
Sugiyarso, G. dan F. Winarni. 2005. Manajemen Keuangan; Pemahaman Laporan Keuangan, Pengelolaan Aktiva, Kewajiban dan Modal, serta Pengukuran Kinerja Perusahaan. Yogyakarta : Media Pressindo.


Tags: Manajemen Persediaan, Persediaan, Manajemen Mutu, Manajemen Sistem Informasi, Sistem Informasi

0 comments:

Poskan Komentar

Ngobrol yuk seputar Makalah Manajemen ?? :-)
Jika ingin komentar Silahkan berkomentar ya teman ^_^

Ada kesalahan di dalam gadget ini